Kerinduan yang Masih Terasa

Hari ini tepat 8 bulan, 16 hari kepergian Bapak rahimahullah meninggal dunia. Terkadang rasanya sesak sekali dada ini kalau ingat Bapak udah gak ada lagi, sosok yang selalu tanya tentang keadaan dan kondisi saya sekarang udah gak ada lagi. Setelah kepergian Bapak, saya baru menyadari setiap detik kebersamaan dengan Bapak sangat berarti. Semasa hidupnya kami sering berdiskusi tentang banyak hal, tentang keseharian, agama bahkan curhat. Saya sangat bersyukur memiliki orang tua yang sangat terbuka pikirannya dan ingin mendengarkan segala keluh kesah saya, bahkan dalam hal remeh pun, begitu pula dengan Bapak, Bapak sering bercerita tentang masa kecilnya, pengalamannya selama kuliah di Jogja dll. Alhamdulillah itu merupakan salah satu rezeki yang gak semua orang dapatkan bersama orang tuanya.

Ketika Bapak masih aktif bekerja sebagai PNS. Sumber: dokumentasi pribadi

Selama sekolah dari zaman SMP bahkan sampe kuliah Bapak selalu siap menjadi tukang antar jemput, walaupun pas kuliah saya udah pake motor tapi kalau saya SMS “Pak maaf, hari ini Olga gak pulang”, besoknya Bapak tiba-tiba datang ke kos Mataram bawain sayur kesukaan saya dulu sayur asem dan ikan nila kuah kuning dulu. Selama kuliah saya tinggal di kosan milik saudaranya Bapak, Kakaknya Bapak namanya Wak Fit alhamdulillah Wak Fit adalah kakak yang sangat berjasa bagi hidup Bapak, dan hidup saya juga. Wak Fit adalah sosok yang sangat dermawan dan rajin Ibadah, semoga Allah Ta’ala melimpahkan kesehatan dan keberkahan untuk Wak Fit. Aamiin 🙂 selanjutnya selama kuliah saya juga pernah tinggal di rumah Kak Danik keponakan kesayangan Bapak yang Baik hatinya dan mudah tersentuh dengan keadaan orang-orang di sekitarnya. Selama Bapak hidup, Kak Danik sangat memperhatikan kondisi Bapak, terutama kesehatannya, semoga Allah Ta’ala melimpahkan kesehatan untuk Kak Danik dan Keluarga. 

Kebersamaan Bapak bersama saudaranya (Wak Fit) Sumber: dokumentasi pribadi

Kepergian Bapak benar-benar membuat saya merasa sangat kehilangan, walaupun sudah menikah dan memiliki anak, tapi kalau ingat Bapak rasanya, ya Allah rindu sekali :’) hanya doa yang bisa saya panjatkan untukmu Pak, surga menantimu Pak aamiin… 

Satu hal yang sangat saya kagumi dari Bapak saya, ibadah tahajud nya yang maa syaa Allah gak pernah ketinggalan, rajinnya tadabbur Al-Qur’an dan ikhlasnya membantu orang lain. Begitu banyak jasa orang-orang yang sudah Bapak bantu, ya Allah Bapak :’ Bahkan setelah kematiannya, satu persatu sahabatnya Bapak menceritakan kebaikan Bapak, begitu banyak kesulitan orang lain yang Bapak beri jalan kemudahan yang semua itu atas Izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala. 

Jujur, selama di rantau saya sangat sedih kalau saya gak ada disamping Bapak disaat kondisinya sedang kritis, saya masih ingat sekali bulan puasa tahun lalu (2022) tengah malam, mak tiba-tiba menghubungi saya sambil menangis sesenggukan “Dadek ayo pulang Bapak sedang kritis” seketika itu rasanya ya Allah jangan dulu, sembuhkanlah Bapak ya Allah, sadarkanlah Bapak. Segera saya ambil air wudhu dan melakukan sholat tahajud, saya berdoa sejadi-jadinya sampai mata sembab berdoa agar Allah Ta’ala memberikan keajaiban atas kesembuhan Bapak. 

Tiba-tiba HP berdering telpon dari Mak, perasaan khawatir dan was-was menghampiri, dalam hati saya berkata “Ya Allah jangan sampai ada kabar duka, semoga kabar kesembuhan Bapak”, ternyata pas saya angkat ternyata suara Bapak, dalam hati saya berkata Alhamdulillah ya Allah segera saya sujud syukur, yang awalnya gak ada nafsu makan, gak ada semangat ngapa-ngapain karena kepikiran kondisi Bapak yang sedang kritis. 

Alhamdulillah setelah beberapa lama saya di tempat rantau, saya putuskan untuk pulang ke Lombok karena Bapak dibawa lagi ke RS di Lombok, sesampai saya di Lombok dan bertemu Bapak kondisi Bapak sudah gak bisa berjalan lagi, Bapak hanya bisa berbaring aja di atas kasur, tanpa ada yang memberi tahu kan saya sebelumnya :’

Sedih sekali rasanya melihat Bapak kala itu, tapi dalam hati juga saya sangat bersyukur Allah masih memberikan kesempatan hidup untuk Bapak, dan itu artinya saya memiliki kesempatan untuk menemani Bapak, dan obat yang paling mujarab untuk menghibur Bapak adalah suara dari cucu-cucunya, suara tangisan dan suara ketawa dari cucu-cucunya membuat suasana terasa hidup terang Bapak dulu. 

Alhamdulillah aku juga memiliki Mak yang sangat telaten merawat Bapak, sangat rajin dan ikhlas dalam merawat Bapak semasa hidupnya Bapak :’ semoga Allah Ta’ala memberikan pahala yang berlimpah untuk Mak karena keikhlasannya dalam merawat Bapak. Begitu juga untuk kakakku yang selalu siap siaga kalau Bapak mau belikan kebutuhan Bapak seperti obat, infus, memeriksa gula darah Bapak dan kebutuhan-kebutuhan lain yang kadang saya sering mikir gimana jadinya kalau gak ada kak selly. 

Mak yang begitu telaten mengurus Bapak bahkan sampai Bapak sudah wafat. Sumber:dokumentasi pribadi

Dan saya sangat ingat, beberapa jam sebelum kematiannya. Pagi itu, Bapak memanggil suami saya “Nak anggar Bapak mau berjemur, tolong angkat Bapak ke kursi roda”. Awalnya saya berdua sama suami mau bersama-sama angkat Bapak ke kursi roda, tapi ternyata tenaga saya gak kuat, akhirnya kami memutuskan untuk menunggu Mak pulang dari Pasar.

Sesampainya Mak pulang dari pasar akhirnya Bapak berhasil diangkat ke kursi roda oleh suami bersama dengan Mak, setalah Bapak duduk di kursi roda posisi Bapak belum nyaman, akhirnya suami berinisiatif menambahkan bantal di belakang punggung dan di dekat leher Bapak akhirnya posisi duduk Bapak sudah nyaman dan saya yang mendorong dan membawa bawa berjemur di halaman depan rumah sambil menyuapi Bapak bubur ati ampela. 

Tepat jam 10.30 WITA saya melihat Bapak sedang disuapin pisang goreng oleh Mak, tidak hanya itu, saya mendengar Mak lagi soal Bapak warna-warna mainan Popit. 

“Bapak Selly warna apa ni?” Tanya Mak, 

“Warna kuning” Jawab Bapak, 

“Kalau ini? Tanya Mak lagi

” Warna merah” Terang Bapak

Dalam hati saya keterangan, “kok tumben-tumbennya Mak nanyain Bapak kyk anak kecil”.

Tiba-tiba Mak nangis sesenggukan, saya pun segera menghampiri Mak, kenapa Mak? Tanya saya. 

Saya pun segera menanyakan Bapak, Bapak kenapa? tanyaku, Bapak mencoba membuka mulutnya dan berusaha berbicara tapi suaranya sudah mulai gak jelas. Feeling saya mulai gak enak, saya pun segera menelpon kakak ika untuk minta tolong membawa Bapak ke RS karena kondisinya sudah kritis, tapi Kakak ika sedang di Mataram, sangat jauh posisinya dari rumah. 

Akhirnya saya mencoba menelpon wak Fit tapi gk ada jawaban, dan yang terakhir saya mencoba menelpon Kak Danik alhamdulillah Bapak dan Kak Danik video call tapi suara Bapak sudah mulai samar-samar. Saya sangat ingat betul kata-kata yang sempat diucapkan Bapak di masa kritisnya “Ga jangan tinggalin Bapak”. Saya pun segera menggenggam tangan Bapak saya selalu tuntun Bapak mengucap Laa Ilaaha Illallah. Akhirnya keluarga pun datang dan segera membawa Bapak ke RS. 

Di dalam mobil saya bisikkan Bapak

“Pak ada Kak Sely disini” ucap saya

dan sambil terbata-bata Bapak berusaha mengucapkan “Bahagia Bapak Sely ada disini” dan didengarkan langsung oleh kak Sely yang waktu itu ada di dekat saya. 

Di dalam perjalanan saya selalu menuntun Bapak mengucapkan  Laa Ilaaha Illallah dan Bapak mengucapkan dengan jelas Laa Ilaaha Illallah

Saya memangku Bapak detik-detik sebelum kematiannya. Sumber:dokumentasi pribadi

Akhirnya Bapak sampai di RS, setelah menerima berbagai tindakan dan akhirnya Bapak menghembuskan nafas terakhirnya. 

In syaa jumlah husnul khotimah Bapak 🤲

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai